Intro
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Password Protected Blog Post
Rumah megah
di tengah desa, tepat di pertengahan sedikit kebelakang dan tepat di dekat
sawah. Beberapa pengunjung dan tamu selalu berkelakar kalo rumah yang ku
tinggali ini termasuk rumah “mewah” karena tempatnya mepet sawah.
Semacam akronim yang mereka buat sendiri, lalu kami tertawa dengan joke tersebut.
Ada pendopo
di bagian depan dan patung-patung semen, pohon beringin besar, jajaran pohon
asam jawa yang menjadi pagar. Beberapa tetangga akan datang waktu pagi hingga
sore hari, menunggu asam-asam itu berjatuhan di tiup angin, atau datang untuk
memangkas sedikit daun pohon beringin untuk pakan kambing. Tidak ada yang aneh
dari rumah keluargaku ini, ini tempat yang nyaman dan menyenangkan. Sejuk dan
rindang, tapi kamu harus cepat pergi dari sini sebelum matahari tenggelam.
Sudah lama
aku menyadari ini, tapi kapan tepatnya mungkin saat aku SD dan aku mengabaikan
ketakutanku itu saat aku membaca artikel soal ketakutan anak sesuai usianya.
Seperti bayi yang takut kehilangan ibunya, balita yang takut dengan orang
asing, anak-anak yang takut gelap. Jadi aku menganggap apa yang ku alami waktu
itu adalah hal yang wajar dan normal-normal saja. Hanya halusinasi anak SD yang
takut gelap setelah solat Magrib di masjid.
Tapi
belakangan setelah orang tuaku cerai di tahun 2020 kejanggalan itu mulai
muncul. Aku bingung harus cerita darimana. Tapi rumah ini seperti memilih siapa
yang boleh datang berkunjung dan siapa yang harus di usir. Rumah ini seperti
memilih tamunya sendiri, rumah ini seperti di tinggali orang lain selain
keluargaku. Aku masih mencari tau tapi aku ingin tetap bercerita soal hal aneh
yang ada disini.
Kalau kamu mau tau, ku persilahkan untuk ikut menyemak cerita ini. Tapi kalau tidak, juga tidak masalah. Tolong biasakan reservasi atau minimal mengabari kalau mau datang kesini.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya

Komentar
Posting Komentar